Al Jahiz Evolusi

Al Jahiz, Tokoh Muslim Pencetus Konsep Evolusi Jauh Sebelum Charles Darwin

Smarteen.co.id — Jauh sebelum Charles Darwin, sekitar abad ke-9, terbitlah sebuah kitab berjudul Al-Hayawan, yang berarti buku tentang binatang. Buku tersebut ditulis Abu ‘Uthman ‘Amr Ibn Bahr Al Qinaniih Al Fuqaymih Al Basrih, atau lebih dikenal dengan nama Al Jahiz sang goggle-eyed (mata bundar seperti ikan).

Ia merupakan ahli biologi yang lahir di Basrah, Irak, sekitar tahun 159-160 H/ 776 M dalam lingkungan keluarga mawali dari Banu Kinana, asal Abyssina (Ethiopia). Al Jahiz  terlahir dari kalangan keluarga sederhana. Dalam keseharian, ia berjualan ikan bersama ibunya di Kanal Basra.

Di balik kesederhanaannya, Al Jahiz adalah orang yang cerdas dan haus ilmu sejak kecil. Ia sering menghadiri ceramah-ceramah di masjid dan kuliah umum yang diberikan oleh para ahli filologi, bahasa, dan para penyair seperti Al-Asma’i, Abu Ubayda, dan Abu Zayd. Karena kecerdasannya itu, Al Jahiz mendapatkan tempat di kalangan masyarakat yang terdidik, di sana ia mendapatkan teman yang mengenalkan filosofi, agama, dan ilmu pengetahuan.

Dalam bidang biologi, Al Jahiz berhasil menciptakan teori-teori embrionik (berkaitan dengan janin) dalam karya tulis setebal 350 halaman, sehingga ia dinilai sebagai seorang pencetus konsep evolusi organik. Selain itu, berbagai sumber menyebut bahwa Al Jahiz telah menulis sekitar 200 karya lainnya. Namun, saat ini hanya tersisia 30 saja.

Al Jahiz Evolusi

Kitab Al-Hayawan

Karya Al Jahiz yang paling berpengaruh adalah kitab Al-Hayawan, yaitu sebuah ensiklopedia yang memuat sekitar 350 spesies hewan. Kitab tersebut terbagi ke dalam tujuh volume, dan dilengkapi gambar-gambar serta penjelasan yang detail.

Kitab ini menjelaskan berbagai aspek biologi dan zoologi hewan seperti klasifikasi binatang, rantai makanan, seleksi alam, dan evolusi. Al Jahiz sudah menulis dengan jelas bagaimana hewan yang lebih besar bisa menakuti hewan yang lebih kecil ukurannya.

“Hyena bisa menakuti rubah atau binatang yang ukurannya lebih kecil. Semua hewan kecil akan memakan hewan yang lebih kecil darinya dan hewan yang lebih besar tidak bisa memakan yang lebih besar. Ini adalah hukum eksistensi,” tulisnya dalam kitab tersebut.

Karya ini juga mendeskripsikan mimikri, cara komunikasi, serta tingkat kecerdasan serangga dan hewan lainnya, seperti menjelaskan bagaimana detail perilaku semut dalam bekerja sama, bagaimana mereka menyimpan gandum di sarang dan menjaga agar tidak busuk saat hujan.

BACA JUGA:

Dalam kitab ini setidaknya telah ada tiga hal penting dalam evolusi yang selanjutnya ditulis Charles Darwin dalam ‘The Origin of Species’. Menurutnya hewan-hewan berjuang untuk tetap bertahan hidup, bertransformasi menjadi spesies, dan mengatasi faktor lingkungan.

Kemudian, Kitab Al-Hayawan juga menjadi acuan bagi para pakar hewan dan pemikir evolusi di Eropa. Miguel Asín Palacios, seorang ilmuwan, mengatakan, karya Al Jahiz sangat berarti bagi perkembangan sains, terutama zoologi.

Wafatnya Al Jahiz

Menjelang akhir hidupnya, ia menderita kelumpuhan total pada satu sisi tubuhnya (hemiplegia). Kemudian Al Jahiz memutuskan pensiun dan kembali ke tempat kelahirannya, Basra, setelah menghabiskan lebih dari 59 tahun di Bagdad. Pada Desember 868 M, saat usianya 93 tahun, ia meninggal dunia. Diduga, ia meninggal karena cedera akibat tertindih rak bukunya.

Al Jahiz memberi gambaran tentang kejayaan peradaban Islam pada abad ke-9 sampai abad ke-11. Saat itu, Bagdad dan sekitarnya menjadi jantung dunia. Masyarakat Muslim dikenal punya semangat belajar tinggi dan terbuka. Selain Al Jahiz, ilmuwan lain macam Ibnu Sina juga berkontribusi besar. []

About Ibnu Majah

Check Also

Merayakan Kemerdekaan ke-79 ala Generasi Muda

Smarteen – Tujuh puluh sembilan tahun telah berlalu sejak Bapak Proklamator, Ir. Soekarno, membacakan naskah Proklamasi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *