Home / INSPIRASI / Saifuddin Qutuz, Penakluk Mitos Pasukan Mongol yang Tak Terkalahkan

Saifuddin Qutuz, Penakluk Mitos Pasukan Mongol yang Tak Terkalahkan

Smarteen.co.id — Tahun 656 H, Daulah Abbasiyah menutup kejayaannya setelah berdiri selama 6 abad. Kejayaan ini berakhir dengan tragis di tangan pasukan Mongol yang saat itu menghabisi seluruh umat Islam di Bagdad.

Mereka membakar dan menenggelamkan karya-karya kaum muslimin di Sungai Tigris hingga air sungai berubah warna menjadi hitam. Sehitam kenangan sejarah umat Islam saat itu yang satu persatu wilayahnya dihabisi oleh pasukan Mongol.

Pasukan Mongol menjadi momok yang menakutkan. Tiap wilayah yang diserang pasti hancur lebur, pasukan Mongol seolah menjadi pasukan tak terkalahkan.

Tahun demi tahun pasukan Mongol semakin buas dan menyerang wilayah-wilayah kaum muslimin untuk ditaklukkan dengan buas. Namun, kebuasan ini harus berakhir di tangan seorang Saifuddin Qutuz, sang penakluk mitos.

***

BACA JUGA: Perjuangan Heroik Umar Mukhtar Si Singa Padang Pasir

Saifuddin Qutuz mempunya nama asli Mahmud bin Mamdud. Nama Saifuddin Qutuz, yang berarti “singa yang garang” dia dapatkan karena keberanian dan perjalanan hidupnya yang keras.

Awalnya Qutuz lahir dari keluarga bangsawan, keluarganya adalah pemimpin di wilayah Khawarizm, pada masa Dinasti Abbasiyah. Qutuz kecil diasuh dalam didikan istana. Dia belajar agama, kepemimpinan, serta pengetahuan lainnya. Dia sengaja disiapkan menjadi generasi penerus.

Namun, wilayahnya kemudian diserang pasukan Mongol, beruntung dia dapat selamat. Qutuz saat itu menjadi tawanan dan dijual sebagai seorang budak. Hingga atas izin Allah dia sampai ke tangan pemimpin muslim di Mesir yang kemudian membebaskannya dari perbudakan.

Setelah Bagdad dihancurkan, pasukan Mongol terus meluaskan kekuasaannya. Syam, Aleppo, Damaskus, Palestina, dan Mesir menjadi tujuan penaklukan pasukan Mongol selanjutnya.

Di Mesir, Qutuz menjadi orang kepercayaan masyarakat karena kematangan pribadi dan kesalehannya. Dia juga mendapatkan kepercayaan dari para ulama, bahkan mengantongi restu dari para ulama untuk menjadi pemimpin Mesir menggantikan raja yang saat itu masih kecil.

Persiapan Jihad Melawan Mongol

Saifuddin Qutuz memulai langkahnya dengan lebih mendekatkan diri kepada masyarakat dan para ulama. Namun pada saat yang sama, kas negara tidak cukup untuk mendanai peperangan yang direncanakan tersebut. Sehingga dia meminta fatwa ulama, apakah boleh mengambil pajak dari rakyat atau tidak.

Para ulama saat itu menjawab, tidak boleh, karena mengambil harta masyarakat dengan cara yang batil. Namun, ada pengecualian dalam dua hal. Pertama, negara tidak mempunyai kekayaan yang cukup untuk membiayai pemerintahannya.

Kedua, para pemimpin, menteri, pejabat, harus diambil harta dan perhiasan yang mereka miliki, baru boleh mengambil harta dari rakyat. Inilah fatwa yang mengawali kebesaran Saifuddin Qutuz.

Dalam waktu kurang dari setahun, Qutuz menerima tantangan dari Hulagu Kan. Saifuddin Qutuz memberangkatkan pasukan ke Ain Jalut dekat Danau Tiberias. Di Ain Jalut kedua pasukan bertemu tanggal 25 Ramadan 658 H.

Dengan strategi matang, Qutuz bersama panglimanya Rudmudin Baibars menghadapi serangan barbar pasukan Mongol. Dengan jumlah pasukan yang hampir seimbang, pasukan muslim yang telah dibakar semangatnya oleh Qutuz berhasil memukul pasukan Mongol hingga mereka lari ke arah timur di Bisan.

Di Bisan inilah pertempuran makin sengit. Saifuddin Qutuz yang kudanya telah mati, terus berperang dengan berjalan kaki sambil meneriakkan “Wa Islamah.. Wa Islamah.. Wa Islamah.. “

BACA JUGA: Siapa ‘Panji-Panji Hitam’ Pembawa Kejayaan Islam?

Kalimat ini adalah kalimat yang memanggil, “Ini Islam, Ini Islam, Ini Islam.” Kalimat ini kemudian masyhur di kalangan Bangsa Arab ketika memanggil untuk berjuang dengan kata-kata Wa Islamah.

Peperangan berakhir dengan terbunuhnya Katabga, sang pemimpin pasukan Mongol yang menandakan kemenangan pasukan muslim. Namun ketika pauskan muslim hendak kembali ke Kairo, Saifuddin Qutuz dibunuh oleh seorang pengkhianat yang tak lain adalah panglimanya sendiri, Rudmudin Baibars.

Saifuddin Qutuz seolah menjadi pemimpin yang Allah takdirkan muncul dalam waktu yang singkat, dengan tugas khusus. Tugas itu adalah mematahkan mitos tentang pasukan Mongol yang tak terkalahkan. Setelah dia berhasil mematahkan mitos, tak lama kemudian, dia pun syahid. [Diolah dari Acara Khalifah Trans7 episode Syaifuddin Qutuz]

About admin

Check Also

doa tahiyat akhir

Bacaan Sholat; Doa Tahiyat Akhir (Arab, Latin, dan Terjemahannya)

Smarteen.co.id — Membaca doa tahiyat akhir merupakan salah satu hal yang wajib dilakukan saat kita …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *