Home / NETIZEN / FIKSI / CERPEN: Kenangan Senja

CERPEN: Kenangan Senja

Smarteen.co.id — Sukses itu bukan soal kita menang atau mendapat nilai tertinggi, tapi soal kita bisa memberikan yang terbaik dan membuat mereka yang kita sayangi bahagia. Bangga akan diri kita.

Aku senang setiap menatap senja. Aku dan ayah selalu duduk berdua di kursi teras depan rumah. Sambil menunggu azan magrib, menikmati kopi hangat yang telah kusiapkan sebelumnya.

Dengan suara serak-serak basah, ayah terkadang menyanyikan satu-dua bait lagu tahun 90-an. Kami juga bertukar cerita, bercanda, berdiskusi, dan saling melempar tanya jawab.

Ayah juga tak habis-habis memberi nasihat untuk kebaikan, semangat hidup, dan kesuksesanku kelak. Aku tidak akan melupakan nasihat-nasihat darinya, benar-benar kucatat dalam hati.

Aku memang bukan anak yang pandai, yang selalu mendapat juara kelas, atau mendapat nilai tertinggi. Namun, ayah selalu yakin bahwa kelak aku akan menjadi seorang yang sukses dan  mampu membuatnya bangga.

***

2 tahun kemudian.

Ini adalah kali pertama aku membawa pulang piala dari kompetisi tingkat provinsi. Alhamdulillah aku mendapat juara I, meski tidak lolos untuk tingkat nasional. Tak apa. Setidaknya aku bisa membuat ayah yang sedang terbaring lemah di rumah sakit terseyum senang.

Tiga hari lalu penyakit jantung ayah kambuh, terpaksa harus dibawa ke UGD dan rawat inap di rumah sakit. Aku sangat khawatir dengan kondisi ayah, aku takut kehilangan ia seperti aku takut kehilangan ibu dulu.

senja

BACA JUGA: CERPEN: Pesan untuk Seseorang yang Telah Mengajariku Cara Menjadi Lebih Kuat

Kini aku mulai mencari uang untuk menghidupi diri sendiri, juga untuk biaya sekolah. Terkadang, aku sisihkan sedikit untuk kuberikan kepada nenek atau untuk sedekah, karena sekarang aku tinggal berdua bersama nenek.

Dua minggu setelah kemenanganku dalam kompetisi tingkat provinsi itu, ayah pergi menghadap Sang Kuasa, menyusul ibu.

Aku sekarang menjadi yatim piatu. Meski begitu, aku takkan pernah membiarkan diriku larut dalam kesedihan selama nasihat dan motivasi dari ayah masih terekam baik dan kuingat. Aku selalu merasa ayah masih ada di sini bersamaku, begitu pun dengan ibu. Aku percaya, suatu saat nanti pasti akan ada hari yang mempertemukan kami kembali dalam kebahagiaan abadi.

***

Pagi telah berganti, gulita berubah warna. Allah sungguh Mahaadil, di setiap kemudahan pasti ada kesulitan, begitu pun sebaliknya. Kini bisnis online-ku berjalan lancar. Aku bahkan bisa mempekerjakan beberapa tetanggaku, meski statusku masih seorang pelajar. Nasihat dan motivasi ayah yang kurekam dalam kalbu itu benar-benar menuntunku pada posisi ini.

Dulu, aku kerap bertanya, “Mengapa ayah tidak pernah memaksaku untuk mendapatkan nilai tertinggi atau juara kelas?”

Ayah selalu menjawab, “Deretan nilai-nilai yang tinggi tidak selamanya memengaruhi kesuksesan, tapi proses dalam memperoleh nilai itu—usaha, doa, dan tekad yang tinggi, lah yang memengaruhinya.”

Kini aku membuktikannya. Terima kasih ayah, setiap nasihatmu yang terucap saat datangnya senja menjadi kenang-kenangan yang takkan pernah hilang dari ingatanku.[]

Oleh:
Absharina Sabila
MA Al Hijrah Karangasri Ngawi

About Ibnu Majah

Check Also

Endometriosis

KISAH NYATA: Divonis Endometriosis, Aku Berusaha Tetap Mensyukuri Ujian Ini

Smarteen.co.id — “Setelah semua pemeriksaan, USG, dan lain-lain. Mohon maaf, Bu, putri Ibu, Nona Sarah, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *