Home / NETIZEN / FIKSI / CERPEN: Perginya Malaikat Tanpa Sayap

CERPEN: Perginya Malaikat Tanpa Sayap

Duarr!!!” Rudal F16 itu lagi. Ke mana ia mendarat sekarang? Apa masih pada satu gedung incaran mereka sejak kemarin? Atau, madrasah-madrasah suci di setiap sudut kota?

Tak ada yang tahu secara pasti tentang hal itu, kecuali pelakunya sendiri dan Yang Mahakuasa. Tak ada satu nyawa yang merasa takut sedikit pun dengan hal-hal tak terduga semacam ini.  Ketika mereka mati, maka mereka syahid. Dan ketika mereka hidup, mereka hidup dalam kemuliaan yang hakiki.

Hhh… hhh… hhh…” napas tak beraturan milik seorang pemuda berambut hitam gelap. Rambutnya bergerak-gerak seiring langkah kakinya. Ia terus berlari menghampiri perkumpulan manusia di ujung jalan. Degup jantungnya tak karuan mengkhawatirkan sesuatu. Bibir kecilnya terus membisikkan kata-kata mulia untuk Allah. Tangannya mengepal, menahan amarah pada para zionis laknatullah.

Hingga langkahnya terhenti, dan tiba di tengah-tengah perkumpulan manusia itu. Tak butuh waktu lama untuk menyadari siapa yang terbujur kaku bersimbah darah di sana. Tiba-tiba, matanya memanas. Remasan jemarinya semakin kuat. Deru napasnya makin tak beraturan. Dadanya naik-turun tak terkontrol.

Innalillahi…” lirih pemuda itu. Kini, matanya sudah basah dan sembab oleh air mata yang berlinang. Gigitan pada bibir bawahya terlepas. Ia menangis. Tak lagi menahan sesuatu apa pun di dadanya. Tak lagi menahan amarah pada orang-orang biadab itu. Hanya syukur dan rindu yang ia rasa. Walau di sisi lain ia juga merasa sedih telah kehilangan sosok malaikat tak bersayapnya di dunia.  Namun, perasaannya bergelora akan rasa syukur karena sosok yang berarti bagi dirinya telah meninggalkannya lebih dulu menjadi seorang syuhada.

Pemuda itu melangkah, mendekati genangan darah itu. Membantu para ibu yang mulai menutupi jenazah, dan siap untuk menindaklanjuti.

Sebelum jenazah benar-benar diangkat dan dibawa, seseorang menyenggol lengan pemuda itu, dan berlalu lari menuju mayat yang sedang diangkat. Sosok itu berkerudung kuning salem, dengan kaos panjang berwarna hitam, di punggungnya masih terpasang ransel sekolah lusuh.

Hiks,” isakan pertama gadis itu, begitu melihat wajah pucat sang mayat. Air matanya terbendung di pelupuk mata, menunggu waktu hingga pecahnya bendungan itu.

Dunia seolah mempunyai kekuatan sendiri, yang menyebabkannya tiba-tiba lemas. Kakinya bergetar hebat, bahunya bergoncang menahan tangis. Perlahan, ia berbalik ke belakang. Menatap pemuda berambut hitam tadi dengan matanya yang sudah berlinang air mata. Bibirnya bergerak perlahan.

Ka… kak,” ucapnya, begitu lirih. Kakinya perlahan bergerak, berusaha diseret menuju sang kakak laki-lakinya.

Pemuda berambut hitam itu tak tinggal diam. Gadis di hadapannya menatapnya dengan mata yang terus mengalirkan air mata. Ia tak sanggup melihat adik kecilnya itu menangis.

Pemuda itu segera mengusap air mata yang tersisa di pelupuk mata ataupun di pipinya. Kemudian ia menarik sudut-sudut bibir, berusaha tersenyum. Kakinya melangkah untuk menghampiri adiknya yang nampak tak kuat berjalan.

Hup. Didekapnya sang adik dengan penuh cinta dan kasih. Membiarkan kepala adiknya terbenam di bahunya, dan menyalurkan kehangatan padanya. “Umi baik-baik saja,” begitu bisiknya di dekat telinga sang adik.

Gadis berkerudung kuning salem itu terus menangis. Tak ada yang bisa ia tahan lagi. Pelukan kakaknya justru membuat perasaannya semakin membuncah. Bisikan lembut dari sang kakak membuat dadanya berdesir asing.

“Umi?” suaranya terdengar parau. Lagi-lagi ia terisak.

Di dalam dekapan sang kakak, ia menarik napas dalam, berusaha mengontrol semuanya. Jemarinya meremas kuat jaket belakang kakaknya. Pelukannya pada pinggang sang kakak semakin kuat, seiring semakin kuatnya ia menahan segala sakit dalam dadanya.

“Umi… umi…” isaknya sembari berbisik. Sampai sang kakak tiba-tiba mencengkeram bahunya kuat, dan sedikit mendorongnya agar terlepas dari pelukan.

“Berzikirlah, adikku! Sesungguhnya umi sudah mencapai kebahagiaannya sebagai syahidah.” Pemuda berambut hitam itu menatap lembut kedua bola mata bulat si gadis kecil. Tangannya meraih ujung kepala, lalu mengusapnya lembut.

“Kenikmatan abadi yang umi dapat tak perlu kita sesali. Cukup doa dan zikir kita agar umi mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.” []

Arina Ilma Mufida
SMA Science Plus Baitul Qur’an Boarding School Sragen

About admin

Check Also

Cerpen Islami

CERPEN REMAJA ISLAMI: Bintang Pesantren Oleh Luthfiah Nabiila

Smarteen.co.id — “Apa? Mondok? Nggak mau!” “Ayolah, Nduk, toh ini untuk masa depanmu juga.” “Di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *