Home / NETIZEN / KISAH NYATA: Ego dan Penyesalan Masa Remajaku

KISAH NYATA: Ego dan Penyesalan Masa Remajaku

Februari 2014

Suatu sore, bersama kakak aku ke bagian administrasi kampus. Sebelumnya, bagian administrasi memang memintaku datang. Aku yakin, ini pasti soal uang gedung dan SPP yang belum terbayar.

Setiba kami di sana, salah satu karyawan bagian administrasi menemui kami. Dia memberi waktu sampai besok sore untuk membayar tunggakanku jika ingin namaku ada ketika UTS.

Ah, itu hanya gertakan. Namun, gertakan itu membuatku kesal. Kesal pada diriku sendiri, kampus, dan juga orang tuaku, khusunya bapak. Aku tak seharusnya begini. Aku seharusnya bisa hidup enak seperti anak PNS lainnya.

Rasa kesal juga membuatku enggan datang ke kampus lagi. Aku sudah malas kuliah, apalagi melihat bagian administrasi. Aku sudah tak memedulikan apakah dulu ibu telah menjual tanah warisan untuk biaya kuliahku atau tidak. Aku tak peduli karena aku sudah sangat kesal.

Maret, 2014

BACA JUGA: KISAH NYATA: Aku Ingin Taat, tetapi Justru Ejekan yang Kudapat

Gayung bersambut!

Paklik-ku yang tinggal di Papua pulang kampung bersama anak tiri dan keponakannya. Saat itu juga, kesempatan datang. Aku berencana ikut ke Papua untuk mengadu nasib di sana.

Tujuannya jelas, agar aku bisa mengumpulkan banyak uang dan tidak perlu repot diminta kuliah oleh simbah dan ibu.

Jika aku bisa punya banyak uang dari Papua, aku bisa menetap di sana seperti paklik. Aku tak perlu lagi balik ke Jawa dan melupakan semua masalah yang ada. Paklik, simbah, dan ibu mengizinkan. Aku pun berangkat ke Papua.

April, 2014

Sudah hampir 2 minggu aku di Papua. Aku tinggal di rumah paklik bersama dengan keluarganya. Rasanya senang sekali. Aku bisa main ke sana sini, bahkan aku sudah diajak paklik ke Raja Ampat yang indah. Benarlah, Papua benar-benar indah luar biasa.

Juni, 2014

Sudah hampir dua bulan aku di Papua. Di bulan ini aku sudah tidak tinggal dengan keluarga paklik. Sebagai orang yang ‘numpang’, tentu saja aku tak nyaman karena sesuatu hal.

Aku memutuskan untuk kos sendiri ke tempat yang cukup jauh dari rumah paklik. Di sini, uang sakuku sudah mulai menipis. Untuk makan aku harus ekstra hemat. Aku harus masak sendiri dengan tungku yang kubuat. Namun, kadang paklik masih mengajakku makan di luar tanpa sepengetahuan istrinya.

Keprihatinanku semakin bertambah setelah beberapa stel pakaian yang kujemur diambil penduduk asli. Aku tak berani menegurnya. Jika kalian ke Papua, jangan membuat masalah dengan penduduk asli. Ini saran saja.

***

Paklik dulu adalah kontraktor yang sukses, tetapi akhir-akhir ini tidak ada order karena semakin menjamurnya kontraktor di sini. Dulu, sebelum berangkat aku pikir bisa membantunya dan bisa dapat banyak uang karena itu, tetapi ternyata aku hanya kluntrangkluntrung saja.

Juli, 2014

Aku menjadi kuli bangunan. Aku diajak paklik ikut proyek pembangunan jembatan. Baru beberapa hari, rasanya aku begitu nelangsa. Aku ingin pulang, tetapi aku harus tetap berada di sini sampai uangku bisa terkumpul lumayan.

Aku merindukan ibu dan kakakku. Ditambah bulan ini adalah Hari Raya Idulfitri. Aku tak bisa merayakannya bersama mereka. Aku pun menelepon mereka. Meski, sebenarnya saat sebelum Idulfitri aku sesekali menelepon atau SMS mereka.

Jika ada uang lebih, uang hasil kerjaku kukirimkan pada kakakku. Dia tengah menempuh skripsinya dan butuh biaya banyak. Aku berniat membantunya sedikit-sedikit.

Sedang saat Idulfitri ini, aku ingin membelikan baju baru untuknya dan Ibu. Namun oleh ibu, uangnya diminta untuk ditabung saja, untuk biaya pulang. Ibu tahu kalau aku ingin pulang.

Aku juga ingin kuliah lagi. Ya, andaikan aku mau sedikit bersabar, aku tak harus mengalami ini semua. Namun, ego remajaku mendorong bertindak tanpa memikirkan akibatnya. Aku menyesal.

September, 2014

BACA JUGA: KISAH NYATA: Catatan Hati Seorang Santri

Alhamdulillah, aku bisa kembali pulang. Papua memberikanku banyak pelajaran. Belajar tentang bekerja keras, bersyukur, tidak menyepelekan hal kecil, dan menurunkan ego (memikirkan akibat). Aku juga semakin sayang dengan keluargaku.

Kini, Desember 2014 aku di Jawa. Setelah pulang dari Papua dan menanti beberapa bulan di sini, aku mendaftar kuliah lagi di jurusan berbeda. Semoga aku semakin lebih baik dan bisa merampungkan studiku tepat waktu sebagai kado bagi ibu dan kakakku. Aamiin…[]

Oleh:
Arif Dwi
Karangpandan, Karanganyar

About admin

Check Also

dibully karena fisik

Pengalaman Hidup: Akan Kubuktikan, Seseorang Tidak Dinilai dari Fisiknya

Smarteen.co.id — Hari itu aku menahan air mataku sekuat tenaga agar tak lagi mengalir di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *