Home / NETIZEN / KISAH NYATA: Aku Ingin Taat, tetapi Justru Ejekan yang Kudapat

KISAH NYATA: Aku Ingin Taat, tetapi Justru Ejekan yang Kudapat

Smarteen.co.idAssalamu’alaikum Sobat. Aku berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Orang tuaku pun tak terlalu paham akan ilmu agama. Namun, aku mencoba taat pada-Nya dan itu aku awali dengan mencoba berjilbab syar’i setiap keluar rumah.

Pagi ini suasana sedikit agak berbeda. Matahari tak juga menampakkan diri dari arah timur, justru hawa dingin yang terasa diiringi tetesan air hujan yang membasahi bumi dan menjadikan di sini semakin terasa dingin.

Pagi ini aku bersiap-siap untuk berangkat sekolah dengan gaya baru menggunakan pakaian syar’i. Aku dengan senang hati melangkah menuruni anak tangga untuk bertemu ibu yang sedang memasak dengan harapan ibu akan senang ketika melihatku menggunakan baju longgar dan jilbab syar’i.

Namun, harapanku tak seindah dengan angan-anganku. Senyuman lebar yang terlukis di bibir ibuku tak kunjung kudapatkan.

“Kenapa jilbabmu besar betul?” terlihat ekspresi tak senang dari wajah ibuku tersayang.

“Kenapa selalu pake jilbab?”

“Seperti ibu-ibu.”

Emm, seperti nenek-nenek saja!”

Beruntun ibu mengejekku karena penampilanku yang baru. Aku berusaha tetap tersenyum, karena aku tahu, ini adalah pilihanku. Pilihanku untuk menjadi seorang yang lebih baik.

BACA JUGA: KISAH NYATA; Tekad Kuat Kalahkan Segala Ketakutan

Ejekan itu bukan hanya kudapatkan di rumah, tetapi juga di sekolah. Namun, lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum lalu pergi. Aku memiliki motto dalam hidupku agar aku tetap kuat menahan cibiran orang lain.

“Jadikan cemoohan dan ejekan sebagai motivasi untuk bangkit dan taat.”

 Sesampai di sekolah aku melangkah dengan senyuman dan harapan, “saya pasti bisa.” Senyuman demi senyuman, cibiran demi cibiran kudapatkan dari teman-teman. Aku tetap tersenyum, aku selalu ingat agar menjadikan ejekan sebagai motivasi untuk bangkit.

Jarum jam terus berputar hingga menunjukkan pukul 14:1, waktunya untuk pulang sekolah. Dengan senang hati kulangkahkan kaki dengan harapan pulang ke rumah disambut dengan sapaan manis.

Harapan itu kembali buyar. Telingaku menjadi agak-agak pedas ketika berkali-kali dikatakan jelek. Namun aku ingat kembali motivasiku. “Untuk apa harus kesal dikatain jelek karena berjilbab, kalau aku marah, berarti sama saja marah sama Allah.

Allah yang memberikan perintah ini. Alhamdulillah aku masih diberikan wajah, bagaimana jika aku hidup tanpa memiliki wajah? Syukuri saja.”

Diam-diam aku terus mendoakan orang tuaku agar mereka bisa menerima keputusanku mengenakan jilbab yang syar’i. Tak lupa aku menyiapkan stok yang banyak senyuman manis ketika ada yang mengejek keputusanku ini.

Alhamdulillah, ternyata ini tidak berlangsung lama. Beberapa waktu kemudian perlahan orang tuaku mau menerima apa yang menjadi pilihan hidupku, berjilbab syar’i.

BACA JUGA: KISAH NYATA: Catatan Hati Seorang Santri

***

Buat Sobat semua di mana pun kalian berada, yang ingin berjilbab syar’i, tetapi orang tua melarang. Ayo semangat jangan mudah baper ketika dilontari kata-kata yang menyakitkan.

Berikan senyuman hangat, doakan, dan buatlah orang tuamu sadar akan keputusanmu untuk berjilbab syar’i serta teruslah berbakti padanya.[]

Oleh: Jumariah, SMAN 1 Nunukan Selatan.

About admin

Check Also

Cerpen Islami

CERPEN REMAJA ISLAMI: Bintang Pesantren Oleh Luthfiah Nabiila

Smarteen.co.id — “Apa? Mondok? Nggak mau!” “Ayolah, Nduk, toh ini untuk masa depanmu juga.” “Di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *