Home / NETIZEN / KISAH NYATA: Bumi Santri, Tempatku Berjuang Menempa Diri

KISAH NYATA: Bumi Santri, Tempatku Berjuang Menempa Diri

Smarteen.co.id — Lembut cahaya pagi menyinari setiap jiwa yang selalu merindukan kedamaian, ditemani bait-bait suci yang dilantunkan tulus untuk Ilahi. Aku bersama embun pagi menyelaraskan udara dengan beningnya.

Bumi santri pagi ini terlihat begitu damai, begitu indah dengan cakrawala yang membiru. Teringat sudah satu tahun lebih aku telah menapakkan kaki di sini, berjuang mendapatkan cahaya Ilahi.

Skenario Allah memanglah yang terindah lagi terbaik. Dia menakdirkanku lahir dari orang tua yang menyayangiku, lalu menitipkanku di bumi santri ini. Hal yang tak pernah terduga sebelumnya. Hidup dalam lingkungan sederhana bernuansa surgawi.

Awalnya gentar dan ragu memulai semuanya. Namun, Allah membuatku yakin. Di sini, tempat untuk mendewasakan diri. Di sini, aku mulai mencari jati diri, “Siapa sesungguhnya aku?” dan “Mengapa manusia harus diciptakan?”

Perlahan, kutemukan jawabannya di sini. Lebih jauh, aku bertemu manusia hebat, tangguh, penuh cinta dan takwa pada Sang Pencipta. Dia adalah guru, teman, sahabat, semuanya memberiku arti lebih tentang hidup ini.

Setiap detik yang kulalui di sini adalah pelajaran berharga yang tak akan kudapatkan dari tempat lain. Mempelajari hal-hal hebat dari orang-orang hebat, aku bersyukur untuk itu.

BACA JUGA: KISAH NYATA: Mahkota Santri, Pengalaman Indahku Menjadi Santri

Pada setiap tawa, tangis, suka, duka, kurajut menjadi kisah indah bertemakan ‘pertemanan’. Kutemukan teman terbaik yang mampu menarik bibirku untuk selalu tertawa, kutemukan teman terindah yang membuatku menangis bersamanya. Bahagia rasanya bisa menjadi salah satu bagian dari mereka yang setiap hari mengeja ayat-ayat-Nya.

Atas kebesaran-Nya lah partikel kecil bernamakan manusia ini dapat berkumpul untuk mempelajari ilmu-ilmu-Nya. Tali ukhuwah yang begitu terasa seakan sudah hidup bersama dalam surga-Nya.

Teman adalah penawar rindu dengan keluarga, mereka adalah keluarga keduaku. Meski sering kali rindu datang dengan memaksa dituruti, ada teman yang mengundurkan rindu untuk disimpan.

Banyak hal menakjubkan yang kudapatkan di sini, yang sebelumnya aku tak mengerti tentang itu. Tentang menakar kesabaran, menumbuhkan keikhlasan, menjadi rendah hati. Itulah awal menjadi manusia yang baik.

Tinggal di sini selama satu tahun lebih juga bukan satu hal yang mudah, banyak pula tantangan yang harus menyapa.

Namun tak apa, masalah membuat seorang lebih kuat bagi yang mampu bertahan, tetapi bisa membuat lebih lemah bagi yang tak mampu bertahan. Dan kekuatan itu akan ada jika diusahakan.

Masalah tak membuatku menyerah dengan keadaan. Aku yakin Allah sudah memiliki takaran yang tepat untuk setiap permasalahan hamba-Nya. Aku tak akan pergi dari sini sebelum menyelesaikan 3 tahun esok, karena di sini adalah medan yang lebih nyata dan pantas untuk meraih mimpi. Itulah kenapa aku bisa lebih sanggup tinggal lebih lama di sini.

BACA JUGA: Manisnya Lelah

Alasan lain tetap bertahan adalah orang tua. Kata abi “Kamu bukan pengecut, kamu pemenang. Kalau besi mau tajam harus diasah,  kalau kamu mau bisa juga harus diasah”. Aku tak boleh mengecewakan abi, membuatnya kecewa sama saja membunuh semua mimpiku sendiri.

Umi bilang, “Kesatria tangguh, kesatria hebat, tak akan menyerah hanya karena satu tantangan”.

Umi lebih suka menyebutku ‘kesatria’ karena aku bukanlah putri raja yang hanya berdiam diri di istana untuk menikmati kemewahan dunia. Namun aku lahir untuk berjuang hingga dapat beristirahat di surga-Nya.

Inilah aku dengan segala mimpiku, aku hanya segelintir di antara miliaran makhluk-Nya. Aku punya mimpi yang lebih besar dari semesta ini. Bumi santri inilah langkah awalnya. Menjadikan hidupku lebih berarti.

Perjuangan tak kenal lelah yang menjadikan semua ini lillah, keyakinan penuh akan Kuasa-Nya. Begitu sederhana tetapi bermakna. Medan meraih mimpi di depan mata, aku sedang berada di dalamnya, mencoba mengumpulkan asa, lalu mewujudkan secara nyata, diiring bait-bait memuji asma-Nya. Aku akan berusaha.[]

Nuha Fatimah Az Zahra,
SMPIT Hidayah Klaten

About admin

Check Also

dibully karena fisik

Pengalaman Hidup: Akan Kubuktikan, Seseorang Tidak Dinilai dari Fisiknya

Smarteen.co.id — Hari itu aku menahan air mataku sekuat tenaga agar tak lagi mengalir di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *