Home / INSPIRASI / Masa Remaja, Masa Indah yang Dapat Mengantar kepada Bahagia atau Nestapa

Masa Remaja, Masa Indah yang Dapat Mengantar kepada Bahagia atau Nestapa

Smarteen.co.id — Menjadi remaja, dan merasakan gejolak di dalam jiwa, adalah hal wajar. Dalam tubuh manusia, memang terdapat hormon-hormon tertentu yang secara otomatis menarik seseorang menuju ‘tempat’ yang sebelumnya belum pernah dirasakan.

‘Tempat’ di sini bukan seperti ruang yang bisa kita saksikan dengan mata. Namun, satu ‘tempat’ untuk mengubah diri seseorang—meliputi sikap, perilaku, perasaan, bahkan bentuk tubuh, dan sebagainya.

Pada remaja, perubahan ini banyak terjadi. Sedikit-banyak, Sobat semua pasti sudah merasakannya. Menjadi abege, berarti menjadi sosok yang baru. Dari kanak-kanak yang masih suka merengek minta dibelikan permen, menjadi seseorang yang jauh lebih paham soal kehidupan. Muncul juga perasaan-perasaan yang sebelumnya tak pernah dirasakan, membuat jantung berdebar-debar tak karuan.

Yap, salah satu fenomena yang muncul saat kita memasuki masa remaja adalah tumbuhnya bibit-bibit ketertarikan terhadap lawan jenis. Jika dahulu kita merasa biasa saja ketika bertemu dan bermain bersama teman-teman sebaya yang berbeda jenis kelamin, kini tiap kali berjumpa timbul perasaan yang berbeda. Ada yang malu-malu kucing, ada yang cuek, ada yang menjadi tambah care, ada yang sampai tidak berani bertatap muka, dan sebagainya.

Inilah masa remaja, masa indah tiada duanya, yang bisa berujung bahagia ataupun nestapa.

Jalin Banyak Relasi

Memasuki usia remaja, berarti kamu harus semakin serius mempersiapkan cita-cita. Hal ini, mau tidak mau, mengharuskan kamu untuk banyak menjalin hubungan dengan berbagai pihak, demi mendapat ilmu pengetahuan ataupun pengalaman hidup yang bisa menjadi bekal kelak.

BACA JUGA: Saat Harus Menjaga Hati Sekaligus Bergaul Secara Luas

Di sisi lain, keharusan untuk bergaul ini bisa menjadi bumerang. Ketika remaja telanjur sibuk bersosialisasi, hingga lupa batasan-batasan yang ada, maka ending-nya justru bukan masa depan cerah yang didapatkan, melainkan masalah hidup yang begitu pelik.

Begini, Sobat. Kita memang harus bersilaturahmi dengan banyak pihak. Namun jika kita tak hati-hati, ‘hati’ ini akan terbawa. Baper. Sebab dalam sebuah hubungan, kamu tidak melulu akan berinteraksi dengan rekan sesama laki-laki ataupun sesama perempuan saja. Namun, kamu pasti akan bertemu dengan seseorang yang berbeda jenis kelamin dengan kamu.

Di sekolah, misalnya. Jika kamu bersekolah di sekolah umum, kamu pasti akan menemui siswa laki-laki dan siswa perempuan yang saling berinteraksi. Bahkan, bagi kamu yang bersekolah di sekolah khusus putra atau khusus putri pun, interaksi antara laki-laki dan perempuan masih sangat mungkin terjadi, bisa via media sosial, dan sebagainya.

Ini satu hal yang wajar, dan memang tidak bisa dilepaskan dari proses kehidupan. Banyak orang yang melewati masa-masa interaksi semacam ini dengan baik-baik saja. Namun, tidak sedikit pula yang terjebak ‘ranjau’.

Sebagai contoh, Smarteen merangkum kisah dua pemuda yang melewati masa remaja dengan cara berbeda. Pertama, sebut saja Mawar. Ketika SMA, ia merupakan siswi yang aktif dalam berbagai kegiatan. Berinteraksi dengan siswa laki-laki pun hal yang biasa. Namun, Mawar tetap bisa menjaga diri. Ia tak pernah baper. Akhirnya ia pun mampu menyelesaikan SMA-nya dengan baik.

Sosok yang kedua, sebut saja Melati. Sama seperti Mawar, ia juga siswi yang aktif di berbagai kegiatan. Namun, lama kelamaan hubungan yang mestinya hanya sebatas partner panitia acara, mulai berubah. Melati kerap bertukar pesan dengan teman laki-lakinya. Kian lama, hubungan mereka kian dekat, dan akhirnya jadilah mereka sepasang kekasih.

Prestasi Melati pun menurun. Banyak waktu yang ia habiskan hanya untuk berpacaran. Belajar jadi ogah-ogahan. Akhirnya, Melati tidak lulus Ujian Nasional. Lebih parah lagi, ia telah melakukan perbuatan yang seharusnya tak dilakukan bersama sang pacar. Masa depan pun jadi suram.

Ilustrasi ini berdasar kisah yang benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. Pergaulan remaja yang tidak dilakukan dengan benar, pada akhirnya hanya akan menjadi sebuah ‘mimpi buruk’.

Awalnya, mungkin terasa berbunga-bunga. Namun, sejatinya kisah cinta yang tidak pada tempatnya hanyalah kebahagiaan semu belaka.

Fokus Belajar dan Jaga Hati

Jika Sobat tak ingin menyia-nyiakan masa depan yang cerah, segera saja tinggalkan hal-hal yang ‘parah’. Menurut Kak Nunung Fathur, salah satu penggagas akun dakwah @tausiyahku_ yang kini telah memiliki lebih dari 2,1 juta followers di Instagram, serta sudah menerbitkan beberapa buku seperti Tausiyah Cinta: No Khalwat Until Akad, Yang Penting Yakin!, Move Up, dan lain-lain, masa remaja adalah masanya untuk fokus mengais ilmu.

BACA JUGA: Mengelola Rasa Cinta bagi Kita yang Masih Sekolah

“Jadi, sibukkan diri dengan banyak belajar dan melakukan hal-hal yang bisa membanggakan orang tua. Tahanlah kesenangan yang hanya sementara itu, untuk kebahagiaan nanti,” ujarnya.

Selanjutnya, tambah Kak Nunung, untuk urusan cinta-cintaan atau bahkan pernikahan, tidak perlu dipikirkan. Nanti ketika saatnya telah tiba, kita akan paham sendiri tanpa harus pacaran-pacaran seperti itu.

Ustaz Tri Bimo Soewarno, Lc., M.S.I., dalam Smarteen Edisi 78 – Desember 2018, bahkan menyebut bahwa interaksi dekat antara lawan jenis menurut perspektif Islam merupakan hal yang tidak dibolehkan, sebab setan akan terus berupaya menggoda hamba dengan berbagai cara. Namun demikian, Islam tidak melarang mutlak hubungan antar-lawan jenis. Dalam jual-beli, urusan-urusan organisasi/kerja, majelis taklim, penanganan pasien, dll, hubungan antar-lawan jenis dibolehkan dalam batasan-batasan tertentu, yang disesuaikan dengan kebutuhan interaksi. [Ibnu Majah/Dina Septiana]

About admin

Check Also

Hikmah Bulan Ramadhan

Meraih Hikmah Bulan Ramadhan dengan Persiapan Mental dan Ilmu

Smarteen.co.id — Bulan Ramadan memang momen untuk beramal sebanyak mungkin. Namun, untuk beramal tersebut dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *