Home / INSPIRASI / Mencintai Diri Sendiri, Cara Berdamai dengan Diri Agar Bahagia

Mencintai Diri Sendiri, Cara Berdamai dengan Diri Agar Bahagia

Smarteen.co.id — Pernah nggak sih Sobat memiliki pikiran seperti ini? “Ah, badan dia bagus banget, langsing. Badanku jelek.” atau “Enak ya jadi dia, udah pintar, kaya lagi. Sedangkan aku? Gini-gini aja. Sengsara.”  Intinya merasa diri kita tidak seperti orang lain? Apa pun yang dimiliki orang lain selalu terlihat lebih indah? Jika iya, tak boleh dibiarkan. Artinya Sobat tidak bisa mencintai diri sendiri.

Ketika pikiran seperti di atas masih muncul pada diri Sobat, tandanya kamu belum mencintai diri sendiri. Kamu masih terlalu fokus dengan apa yang dimiliki orang lain, bukan apa yang kamu miliki.

Oleh sebab itu, kita perlu segera mengubah mindset. Jangan lagi peduli pada apa yang dikatakan orang, tetapi fokuslah pada pengembangan diri. Lihat apa yang menjadi kelebihan dirimu, lalu kembangkan.

Dalam Alquran Surah At Tin ayat 4 Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Ya, menusia diciptakan dalam bentuk terbaik, dengan kata lain sempurna.

Tentu hal ini menunjukkan bahwa di dalam dirimu pun—yang kerap kamu anggap tidak lebih baik dari orang lain—ada kelebihan yang jika sedikit diperjuangkan akan berubah menjadi ‘kesempurnaan’. Jadi, wajib bagi kita untuk senantiasa mencintai diri.

mencintai diri sendiri

Fokus Pada Diri untuk Mencintai Diri Sendiri

Fokus pada diri sendiri, apakah justru tidak membuat kita menjadi sosok egois dan narsis? Jika pertanyaan ini terlintas di benakmu, tak masalah. Fokus pada diri dalam rangka mencintai diri sendiri tidak serta-merta bisa dikatakan sebagai perilaku narsistik.

Dalam situs pijarpsikologi.org dijelaskan bahwa perilaku narsistik yang menjadi gangguan kepribadian adalah perilaku yang cenderung mencintai diri sendiri secara berlebihan hanya untuk dipandang baik oleh orang lain. Sementara yang perlu kamu lakukan adalah mencintai diri sendiri secara wajar sebagai penghargaan pada diri sendiri, bukan demi pendapat orang lain.

Sedangkan untuk kemungkinan kita menjadi egois, Nasri Ika Yuliati, M.Psi., Psikolog., salah satu konselor di Lembaga Konsultasi Psikologi Remaja, Kitakata, menjelaskan bahwa mencintai diri sendiri berarti kita tetap mau berbagi, membantu, dan memberi manfaat bagi orang lain.

“Tahap di mana kita dikatakan telah mencintai diri sendiri adalah ketika kita sudah berguna bagi orang lain,” ungkapnya.

BACA JUGA: Berdamai dengan Diri Sendiri untuk Hadapi Berbagai Permasalahan Hidup

Dikutip dari sebuah sumber, seorang praktisi psikologi, Margaret Paul, Ph.D., mendefinisikan mencintai diri sendiri sebagai perilaku memahami nilai sebenarnya dalam diri, tentang apa yang sebenarnya ada dalam diri kita, bukan menilai diri berdasar penampilan fisik atau performa diri.

Mencintai Diri Tidak Membuat Kita Jadi Egois

Jadi, mencintai diri sendiri tidak akan membuat kita jadi egois. Hal ini justru sangat memungkinkan kita untuk menjadi sosok yang bermanfaat. Ketika kita mencintai diri sendiri, kita akan fokus pada kapasitas diri, sehingga kita akan lebih produktif untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi diri sendiri dan juga orang lain.

Apa yang dimiliki dan dikatakan orang lain, jika itu bisa memicu energi positif dalam diri kita, tak bisa diabaikan begitu saja. Mencintai diri sendiri adalah perihal menghargai diri, tentang kelebihan dan kekurangan yang dimiliki.

Dalam prosesnya, tidak berarti kita menutup telinga rapat-rapat dan menjadi manusia anti-sosial. Kita tetap harus terbuka, tetapi dengan memasang filter. Kita hanya menerima hal positif saja, dan menolak yang negatif.

Mencintai Diri Sendiri Membuat Kita Lebih Bahagia

Mencintai diri sendiri akan membuat kita lebih bahagia. Seperti yang dirasakan Amalia Lafenia. Remaja asal Kudus ini awalnya mengaku lelah dengan hidupnya, sebab ia merasa keluarganya tidak seperti keluarga-keluarga lain yang bahagia.

Namun, ia kemudian mengubah mindset, ia mencoba mensyukuri apa yang dimilikinya, sesekali juga memberi penghargaan pada diri sendiri dengan melakukan hal-hal yang disukai.

“Alhamdulillah aku jadi lebih bahagia,” ungkapnya. “Dalam keluarga memang masih ada masalah, tetapi sekarang aku tidak membandingkan keluargaku dengan keluarga orang lain yang tampak lebih bahagia,” sambung Amalia.

BACA JUGA: Cara Mencintai Diri Sendiri dengan Mengenali Kelebihan dan Kekurangan Diri

Menyimak cerita Amalia, kita bisa simpulkan bahwa kebahagiaan itu bisa kita ciptakan. Kuncinya adalah mindset. Bentuk kebahagiaan dan kesedihan setiap orang berbeda. Sehingga, kita tidak perlu membandingkan hidup kita dengan orang lain.

Lagi pula, sesuatu yang tampak indah belum tentu benar-benar indah. Kehidupan orang lain yang terlihat sempurna, tentu memiliki celah permasalahan yang memusingkan bagi mereka.

Mari kita bersyukur. Allah berfirman, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” [Q.S. Ibrahim (14): 7]

Stop Ikut Campur Urusan Orang Lain

Di era media sosial (medsos) seperti sekarang, perilaku yang mencerminkan peribahasa ‘gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak’ juga perlu diwaspadai.

Saat ini, banyak orang yang cenderung sibuk memberi penilaian atas urusan orang lain. Sementara, dirinya sendiri belum tentu lebih baik.

Melakukan judgement tanpa dasar kepada orang lain, sejatinya hanya akan menimbulkan berbagai kerugian. Baik bagi diri sendiri, maupun orang lain. Hal ini terjadi karena seseorang belum bisa mencintai diri sendiri, sehingga ia selalu merasa resah terhadap apa yang dimiliki orang lain.

Keresahan ini kemudian memicu seseorang untuk menganggap dirinya lebih baik, dan orang lain payah. Padahal belum tentu.

Di sisi lain, ujaran kebencian, hujatan, dan sebagainya di medsos juga bisa terbentuk akibat adanya kenangan serupa yang menimpa pelaku di masa lalu. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan Nasri.

BACA JUGA: Ingat, Setiap Orang Punya Kelebihan dan Kekurangan Masing-Masing

“Kenapa orang melakukan bullying, itu karena mereka pernah di-bully. Kemudian, mungkin mereka tidak bisa mem-bully balik di dunia nyata, akhirnya medsos menjadi sarana yang menyenangkan untuk aksi ‘balas dendam’ ini,” ujarnya.

Tindakan ini tentu tidak bisa dibenarkan, apa pun alasannya. Dalam hidup ini, kita tidak bisa mengontrol atas apa yang dilakukan orang lain. Sementara itu, kita bisa mengontrol diri sendiri untuk terus berupaya menjadi lebih baik.

Jadi, daripada sibuk membalas omongan buruk orang terhadap kita, lebih baik kita sibuk mengembangkan diri, mencintai diri, dan berprestasi. Prestasi itulah yang akan menjadi bukti bahwa kita tidak seperti apa yang mereka katakan. Love yourself! []

About Ibnu Majah

Check Also

tidak nyaman dengan keluarga

Saat Merasa Tidak Nyaman dengan Keluarga Sendiri, Ini yang Harus Dilakukan!

Smarteen.co.id — Sobat, kamu pernah merasa tidak nyaman dengan keluarga sendiri? Perasaan semacam ini, seiring …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *