Home / NETIZEN / Kisahku di Asrama; Dari Tidak Betah, Suka Membangkang, Hingga Berubah Menjadi Lebih Baik

Kisahku di Asrama; Dari Tidak Betah, Suka Membangkang, Hingga Berubah Menjadi Lebih Baik

Smarteen.co.id — Malam itu semua barang yang diperlukan sudah tertata rapi di dalam mobil. Awalnya, aku senang karena menata almari plastik dengan bapak (aku sangat suka hal-hal yang berhubungan dengan mengotak-atik barang). Hingga akhirnya, aku teringat kembali akan esok. Yeah… besok pagi-pagi sekali aku harus persiapan berangkat ke asrama. Saat berada sendiri, aku mulai menangis tanpa sepengetahuan ibu dan bapak. Aku tidak ingin bersekolah di sana.

Pagi harinya, aku menangis lagi karena telingaku sangat sakit. Bapak mencoba menenangkanku, sedangkan ibu di pasar. Tak berapa lama, ibu pulang, kami semua pun berangkat. Di tengah perjalanan, bapak berhenti di apotek untuk membelikanku obat telinga.

***

Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan dengan mengendarai mobil, akhirnya kami sampai di asrama. Usai menempatkan barang-barangku ke kamar, aku mengambil seragam yang berada di aula asrama.

BACA JUGA: KISAH NYATA: Dari Pacaran, Muhasabah, hingga Hijrah

Setelah itu, ada penyuluhan orang tua di masjid putri. Dan sekitar pukul 12.00 WIB, penyuluhan selesai. Aku dan teman-temanku yang berada di asrama melakukan persiapan Salat Zuhur di masjid. Setelah salat, aku kembali ke kamar untuk beristirahat. Orang tuaku masih menungguiku.

Tak berapa lama usai istirahat, ibu, bapak, dan Zaza adikku pulang. Saat akan keluar dari kamarku, ibu tidak menoleh ke arahku sedikit pun (kata bapak, saat di perjalanan pulang ibu menangis).

Aku hanya menatap kepergian ibu sambil duduk di dipan. Sedih sekali rasanya, baru awal Bulan Ramadan, tetapi sudah harus berpisah dengan keluarga.

Usai Salat Isya dan Tarawih, aku dan teman-teman tadarus di masjid. Memulai kegiatan berbeda dan belum pernah kulakukan sebelumnya, sehingga membuatku lelah. Aah… aku ingin pulang. Malam hari saat lampu kamar dimatikan, aku mulai menangis sebelum akhirnya tertidur.

Pukul 02.00 dini hari, aku terbangun karena mimisan. Aku mencoba membangunkan teman-temanku. Namun, tidak ada yang bangun. Akhirnya, aku mencari tisu yang ada di dalam almariku.

Pagi harinya saat berangkat untuk MOS, aku mimisan lagi. Baju dan jilbabku terkena darah. Aku pun dibawa ke UKS. Karena masih sakit, aku pun kembali ke asrama untuk istirahat. Saat itulah bapak meneleponku, membuatku tenang dan bisa tidur.

Siang hari, seorang teman membangunkanku. Katanya ini jam istirahat, dan dia pulang asrama. Padahal setahuku, di dalam aturan tidak boleh pulang asrama meskipun jam istirahat. Namun, dia memang suka membangkang. Mungkin dia juga tidak betah sepertiku.

BACA JUGA: KISAH NYATA: Bumi Santri, Tempatku Berjuang Menempa Diri

Seiring berjalannya waktu, aku turut terpengaruh oleh teman-temanku. Aku mulai nakal, suka membangkang, melanggar aturan asrama, bertengkar, dan lainnya.

Sampai suatu ketika di kelas XI, ayah salah seorang temanku meninggal dunia. sontak saja, masa-masa di waktu kecilku itu kembali terngiang di benakku. Kenangan itu, membuatku berjanji untuk berubah, walaupun kurasa memang belum sepenuhnya berubah.

Temanku lain, kini berani untuk mengajakku Tahajud, Qiroatil Al-Qur’an, dan ibadah lainnya. Tentu saja aku suka, dan aku mulai merasakan hikmah tinggal di asrama. Mulai dari suka dan duka, berbagi tempat curhat, lebih mandiri, lebih dewasa, dan berubah menjadi lebih baik.[]

Oleh:
Yaaqutah Laili P
SMK IT Smart Informatika Surakarta

About admin

Check Also

dibully karena fisik

Pengalaman Hidup: Akan Kubuktikan, Seseorang Tidak Dinilai dari Fisiknya

Smarteen.co.id — Hari itu aku menahan air mataku sekuat tenaga agar tak lagi mengalir di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *