Home / REVIEW / BUKU / Review Novel “Isabel, The Jewel from Constantinople”, Mengulik Era Penaklukan Konstantinopel Hingga Konflik Keluarga

Review Novel “Isabel, The Jewel from Constantinople”, Mengulik Era Penaklukan Konstantinopel Hingga Konflik Keluarga

Blurb

Mozart bertanya, kenapa Ratu Inggris bernama Elizabeth?

Begitulah bunyi salah satu pesan terakhir Kakek Isabel. Awalnya, gadis albino tersebut tak pernah menduga bahwa kematian Sang Kakek akan menjadi awal dari perjalanan panjang petualangan yang mendebarkan, penuh teka-teki, serta mengantarkannya pada kenyataan pahit yang tak pernah diduga.

Zeyn, sang kakak sepupu yang turut membantu pun mesti mengejar pelaku yang membuatnya harus melawan nuraninya sendiri. Mengungkap sebuah konspirasi besar yang mengoyak-oyak harga dirinya.

Sementara itu, di ujung lain waktu, Isabel yang lain tengah menjalani kisah hidupnya sendiri. Sejarah telah memaksanya menyaksikan sebuah revolusi yang akan mengubah seluruh kehidupannya hingga ke ujung lain masa.

Ini adalah sebuah novel inspiratif yang akan menyadarkan kita, betapa sebagai seorang muslim kita tanpa sadar telah meninggalkan kemusliman kita. Sementara di suatu tempat di sana, ada orang-orang yang justru menemukan indahnya Islam hanya dengan menjadi bagian dari perubahan di sekitarnya.

Muslim Sum Gaudeo

I I Superbus Sum Muslim

(Saya muslim, saya bangga bahwa saya seorang muslim) —Hlm. 268

Novel Isabel The Jewel From Constantinople

Smarteen.co.id — Novel ini bercerita tentang dua Isabel yang berbeda. Hidup di zaman yang berbeda, nasib yang berbeda, dan juga konflik yang berbeda. Persamaannya, keduanya adalah perempuan albino bermata merah yang ternyata memiliki keterkaitan dengan latar kover novel—Hagia Sophia.

Kita akan dibawa melintasi abad ke-14, menyaksikan Isabel yang terlahir sebagai budak di rumah ayahnya sendiri dan diasingkan karena kondisinya yang berbeda. Sampai ia bertemu Cladius, putra dari majikannya, yang memperlakukannya sebagai manusia.

Keduanya tumbuh dewasa bersama hingga timbul benih cinta di antara ikatan pertemanan mereka. Sayangnya, kisah cinta mereka tak berjalan mulus saat kenyataan pahit tersebut terungkap. Belum lagi, penaklukan Kota Konstantinopel telah mengubah kehidupan Isabel sepenuhnya.

Dan di zaman modern, Isabel Pasha mengajak kita untuk memecahkan teka-teki dari kakeknya yang baru saja meninggal akibat serangan jantung. Pesan tersebut membawa Isabel pada sebuah rahasia terkait kematian sang ayah dan identitasnya. Hingga gadis berumur dua puluh tahun itu menyimpulkan kalau dia harus pergi ke Turki. Tapi, bagaimana caranya Isabel ke Turki jika tak ada seorang pun di pihaknya?

Gaya bahasa yang formal membuat dialog dan interaksi antar tokoh terlihat cukup kaku, belum lagi konflik yang klise, dan juga plot hole di beberapa bab. Tapi, tapi, tapi… karena dibawakan dengan sudut pandang orang ketiga, kita bisa langsung merasakan emosi para karakter dan bagaimana situasi Kota Konstantinopel di masa penaklukan Sultan Mahmud Al-Fatih

Meski jadi terkesan bertele-tele dan agak digurui, namun penulis berhasil menutupinya dengan mengenalkan kita mengenai budaya dan sejarah di bumi Byzantium itu sendiri secara perlahan tanpa kesan menjejalkan semua kisahnya sekaligus.

BACA JUGA: 5 Buku Recommended untuk Temani Kamu di Rumah Aja

Target pembaca cerita ini sepertinya dewasa muda untuk kisaran umur 15-25 tahun, mengingat dari umur Isabel di masa modern. Jadi jangan kaget jika penyelesaiannya sendiri ringan dan sedikit twist menanti di bab akhir.

Secara keseluruhan, jika kalian menyukai novel islami berbalut sejarah, bacaan ringan, dan butuh ditampar motivasi kenapa-harus-bangga-sebagai-muslim/muslimah, novel ini sangat saya rekomendasikan. []

Identitas Novel

Judul: Isabel, The Jewel from Constantinople
Penulis: Deasylawati P.
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tebal: 284 halaman
ISBN: 6020292126, 9786020292120
Tahun Terbit: 2016

Oleh:
Herlysa Agustin Darianto
MAN 1 Bogor

About Ibnu Majah

Check Also

Film Gundala

Menonton Aksi Superhero Lokal Penegak Keadilan dalam Film Gundala

“Kalau orang lain tidak mau memperjuangkan keadilan, bukan berarti kita harus begitu juga kan, Nak.” …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *