Home / NETIZEN / FIKSI / CERPEN REMAJA ISLAMI: Bintang Pesantren Oleh Luthfiah Nabiila

CERPEN REMAJA ISLAMI: Bintang Pesantren Oleh Luthfiah Nabiila

Smarteen.co.id — “Apa? Mondok? Nggak mau!”

“Ayolah, Nduk, toh ini untuk masa depanmu juga.”

“Di sana tuh pada kudet orangnya. Kerudungnya aja pakai taplak meja, harus pakai kaos kaki lah, bercadar lah, norak!”

“Astagfirullah, Nduk, itu namanya aurat, jadi harus ditutupi. Kamu nggak mau kan lihat Bapak diseret ke neraka kelak?”

Ibu dan bapak tahu kelemahanku adalah mereka. Aku paling tak tega melihat mereka  terlalu memikirkanku di usia senjanya. Alhasil, aku mengiyakan permintaan ibu yang membujukku untuk masuk pesantren. Itu adalah tempat yang terjangkau untuk kami, mengingat kondisi perekonomian keluargaku yang pas-pasan.

***

Hari pertama di pesantren seperti neraka. Mereka menyita HP dan menghapus lagu-lagu kesukaanku. Kami pun harus berpakaian syar’i.

“Nama saya Aulia Zahra, dari Solo,” kataku memperkenalkan diri.

“Oke, kamu, kamu, dan kamu menempati rayon Khadijah, kamar nomor 5. Ini kuncinya,” seorang ustazah menunjuk beberapa di antara kami sambil menyodorkan sebuah kunci seusai sesi perkenalan.

“Maaf, Us, HP saya tidak dikembalikan?”

“Oh ya, HP akan dibagikan sepekan sekali, tiap Sabtu sampai Ahad malam. Jadi, kalian akan lebih fokus belajar dan menghafal.” Mendengar ini, raut wajahku menjadi kesal.

Nggak pa-pa, satu pekan itu cepat lho,” Amanda, teman satu kamarku, mencoba menghibur.

“Cuma kayak satu hari aja,” celetuk teman sekamarku yang lain, Ananta.

Malam itu kuhabiskan untuk menangis meratapi nasib karena teringat dengan rumah yang sebelumnya tak pernah kutinggalkan.

Lho, kenapa nangis?” tanya Ananta sambil mengusap air mata yang jatuh di pipiku.

Cerpen Islami

BACA JUGA: CERPEN Remaja tentang Perjuangan: Jangan Menyerah, Aulia! oleh Ika Amalia

Nggak pa-pa, kok.”

”Kangen rumah, ya?” sambung Amanda, aku pun mengangguk.

Emang jauh dari keluarga itu menyakitkan, tapi kalian beruntung masih bisa pulang walau sebulan sekali untuk bertemu keluarga. Sementara aku, aku tak bisa melihat mereka walau hanya sekali,” mata Amanda mulai berkaca-kaca.

”Maaf ya, jadi ingatin kamu.”

Nggak pa-pa, aku yakin mereka kini bahagia di sana.”

”Mulai sekarang, ayo kita mulai persahabatan ini dengan membagi suka maupun duka kita bersama-sama. Oke?”

”Oke!” jawab kami serempak.

”Oh ya, kamu ikut organisasi aja biar sibuk dan nggak kepikiran rumah terus.”

***

Mungkin itu sedikit melegakan untukku, karena di hari pertama sudah ada yang mau jadi sahabatku. Namun, tetap saja aku belum merasa bahwa ini seperti rumahku sendiri. Mana mungkin rumahku seramai ini, dengan begitu banyak aturan yang tak pernah kubayangkan.

Akhirnya, kuikuti tiga organisasi, tiga ekstrakurikuler, dan tiga pelajaran tambahan yang dapat membuatku sibuk dan tak lagi memikirkan rumah. Awalnya aku sangat terbebani oleh semua itu, tapi lama kelamaan kulalui itu dengan senang. Aku bertekad, di sini aku harus meraih prestasi yang sebelumnya tak pernah kutunjukkan waktu SMP dulu.

Kucari lomba yang sesuai bakat dan kuikuti agar aku menjadi siswi terpandang. Setahun di sini, aku pun berhasil meraih beberapa piala. Aku tak menyangka bisa melewati semua ini dengan baik.

“Kalian apa kabar? Aku kangen. Ayo makan, kutraktir!” sapaku pada kedua temanku setelah sekian lama.

“Apa? Aku nggak salah dengar? Kamu masih mau ngomong sama kita lagi?” sahut Ananta.

Udah lah, mungkin Aulia sibuk. Jadi dia lupa sama kita,” komentar Amanda.

“Oh iya, aku lupa, dia kan udah jadi bintang kelas, bintang sekolah, bintang pesantren,” kata Ananta.

BACA JUGA: CERPEN: Pesan untuk Seseorang yang Telah Mengajariku Cara Menjadi Lebih Kuat

Ia melanjutkan, “Kamu nggak ingat, saat kamu sendiri, siapa yang jadi temanmu? Siapa yang tenangin kamu dan kasih nasihat supaya betah di sini? Tapi kini kamu berubah sejak jadi bintang pesantren, kamu nggak ingat kita lagi. Ayo Manda, kita pergi saja!”

Aku sangat terpukul, hatiku hancur ketika mereka meninggalanku. Aku sadar keputusanku salah. Aku terlalu sibuk dengan ambisi-ambisiku, hingga melupakan teman-teman yang telah berjasa padaku.

***

Beberapa hari kemudian, kuhampiri Amanda dan Ananta sambil menyanyikan lagu kenangan kami, One Big Family. Awalnya mereka mengabaikaku, tapi lama-lama mereka mulai ikut bernyanyi dan memelukku dari belakang.

Maafin aku, aku janji aku nggak akan kayak gini lagi, aku nggak bakal ninggalin kalian lagi,” kataku.

Maafin kami juga. Kami terlalu cemburu dengan semua kesibukanmu.” []

About Ibnu Majah

Check Also

Endometriosis

KISAH NYATA: Divonis Endometriosis, Aku Berusaha Tetap Mensyukuri Ujian Ini

Smarteen.co.id — “Setelah semua pemeriksaan, USG, dan lain-lain. Mohon maaf, Bu, putri Ibu, Nona Sarah, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *