Home / CURHAT / Nasihat untuk yang  Sering Berbohong, tapi Tidak untuk Bermaksud Buruk

Nasihat untuk yang  Sering Berbohong, tapi Tidak untuk Bermaksud Buruk

Assalâmu’alaikum Wr. Wb. Ustaz, saya sering berbohong kepada orang tua. Namun tidak untuk melakukan hal yang macam-macam. Misalnya; saya bilang mau belajar kelompok, padahal saya ingin jenguk orang sakit. Atau minta uang untuk beli buku, tetapi saya gunakan untuk modal bisnis kecil-kecilan.

Intinya saya tidak melakukan hal yang dilarang. Saya melakukan itu secara spontan, tetapi sering. Kadang pernah juga ketahuan, akan tetapi orang tua tidak marah. Bagaimana hukum perilaku saya yang sering boh ong seperti ini? (Arif, Sragen)

Diasuh oleh:
Ustaz Tri Bimo Soewarno, Lc., M.S.I.
Ustaz dan Pengajar MAN 1 Surakarta

Smarteen.co.id — Wa’alaikumussalâm. Wr. Wb. Sobat Smarteen, salah satu etika mulia yang Rasulullah Saw ajarkan adalah as-shidq (kejujuran). Jika Rasulullah dikenal dengan sebutan as-shâdiq al-amîn (seorang yang jujur dan amanah), dimana siapa pun yang berinteraksi dengan beliau baik kawan ataupun lawan memiliki kesimpulan yang sama bahwa Muhammad adalah pribadi yang tak pernah berdusta dan selalu mengemban amanah dengan baik, maka seharusnya pantulan etika agung Rasul tersebut menjalar pada kita dan terpatri dalam tubuh.

Pada dasarnya seorang yang menjaga nilai-nilai kejujuran, walaupun dengan itu ia merugi secara materi ataupun dicemooh orang lain, ia akan merasa nyaman dan tenteram. Batinnya tak terusik.

Berbeda halnya dengan seorang yang berdusta, meskipun dusta yang ia lakukan bisa menjadi media efektif guna merengkuh maslahat pribadi/kelompoknya, bahkan dengan itu ia bisa mendapatkan keuntungan duniawi yang sangat besar, akan tetapi di sisi lain si pendusta akan merasa ketidaknyamanan, keragu-raguan, dan goncangan batin.

Nasihat untuk yang Sering Bohong

BACA JUGA: Melihat Aurat Sesama Jenis, Bagaimana Hukumnya?

Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad, “as-Shidqu tuma’ninah, wal kadziba ribah” (sesungguhnya kejujuran akan mendatangkan ketenteraman, dan dusta akan mendatangkan keragu-raguan).

Karenanya Sobat, jujur bukan perkara mudah. Ia bisa diwujudkan dengan usaha keras. Mengapa demikian? Karena seorang yang jujur tidak akan memprioritaskan hal-hal yang bersifat duniawi.

Ia juga tak mau meraup keuntungan/keberhasilan dengan cara-cara yang tak sesuai. Ia ingin menjadi dirinya dengan menyampaikan sesuatu sesuai fakta, walaupun hal itu pahit. Ia kalahkan hawa nafsu demi mendapatkan kemuliaan dunia-akhirat.

Wajar jika Rasulullah jaminkan surga pada setiap insan mukmin yang senantiasa menjaga lisan. Rasul sampaikan pesan nabawy yang diriwayatkan Imam Bukhari, “Barang siapa yang menjaminkan untukku lisannya, dan kemaluannya, maka aku jaminkan untuknya surga.” Maksud dari “menjaminkan lisan” pada hadis ini adalah menjaga lisan untuk tidak digunakan dalam hal-hal negatif, semisal; dusta, menyakiti orang lain dengan hinaan, umpatan, dsb.

Menguatkan hadis di atas, dalam riwayat lain Rasul sampaikan bahwa kejujuran akan membawa pada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkan pelakunya menuju surga. Sebaliknya, dusta akan membawa pada fujûr, dan fujûr akan menyeret pelakunya menuju neraka (H.R. Bukhari).

Para ulama menjelaskan, mengapa dusta dikaitkan dengan fujûr? Makna dari fujûr adalah al-ismu al-jâmi’u li anwâ’i asy-syurûr (satu nama yang mencakup berbagai perbuatan buruk). Artinya, dusta yang dilakukan seseorang tidak hanya mengakibatkan satu tindak dosa/maksiat, tetapi sering kali berawal dari dusta, seorang tak segan untuk melakukan beragam kemaksiatan demi melegalkan dustanya atau menutupi rasa malunya setelah berdusta.

BACA JUGA: Hukum Membicarakan Orang Lain; Ada yang Diperbolehkan, Ada yang Dilarang

Simpulannya, kami sarankan agar kita semua menjauhi dusta dalam bentuk apa pun. Pada prinsipnya, dusta merupakan pintu maksiat yang dilarang tegas oleh syariat. Syariat hanya menoleransi dusta dalam tiga hal.

Pertama, dalam pengaturan strategi peperangan. Kedua, mendamaikan dua orang yang berseteru. Ketiga, dusta suami kepada istri terkait hal yang dapat memunculkan keridaan dan membaikkan keadaannya.

Sobat, biasakan untuk jujur kepada siapa pun. Jangan biarkan diri kita sering berdusta karena kita anggap dusta tersebut masih masuk kategori ‘hal yang lumrah’. Berawal dari titik inilah setan akan mengelabui kita, hingga secara tak sadar kita terus berdusta dan akhirnya label pendusta tersematkan pada diri kita, wal ‘iyâdzu billâh. []

 

About Ibnu Majah

Check Also

MENGATASI KEPUTIHAN TIDAK NORMAL

Cara Mengatasi Keputihan Tidak Normal

Assalamualaikum. Saya siswi SMK. Setiap hari, saya mengalami keputihan. Saya pernah baca artikel yang menjelaskan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *