Home / NETIZEN / KISAH NYATA: Pengalaman Menghadapi Kegagalan Sampai Kecewa

KISAH NYATA: Pengalaman Menghadapi Kegagalan Sampai Kecewa

Smarteen.co.id — Terkadang kegagalan dalam sebuah kompetisi membuat seseorang menjadi tidak percaya diri untuk melangkah lagi. Mereka seperti kehilangan harapan dan merasa putus semangat untuk berjuang kembali. Tidak hanya mereka, aku pun pernah merasakannya saat menduduki bangku SMA kelas X awal semester genap. Inilah pengalaman menghadapi kegagalan yang pernah kualami.

Saat itu, ada sebuah kompetisi karya tulis ilmiah tingkat Jawa Tengah dan DIY. Aku bersama dua temanku tergabung dalam satu kelompok. Merancang karya tulis dan melakukan penelitian lapangan bersama. Meskipun masih awam dalam dunia karya tulis, tetapi dengan modal tekad dan semangat kami tetap berusaha untuk memberikan hasil yang terbaik.

Saat melakukan penelitian lapangan, banyak sekali tantangan dan pengalaman yang kami dapatkan. Berbagai sikap orang, kami temui. Ada yang emosional dan ada yang profesional.

Pengalaman Menghadapi Kegagalan

Panasnya terik mentari menjadi penyemangat dan saksi dalam menggali data di lapangan. Bahkan, kejadian yang tidak diinginkan pun terjadi. Salah satu temanku pusing dan akhirnya kami membawanya ke sebuah pos ronda dekat sawah di mana kami melakukan penelitian lapangan.

Pengalaman menghadapi kegagalan memang pahit. Namun, aku yakin bisa melalui semuanya dengan baik. Inilah yang harus ditanampak dalam diri kita semua. Sesulit apa pun suatu hal, yakinlah ada jalan keluarnya.

“Ternyata berat juga ya melakukan hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya!” seru temanku sambil duduk dalam pos ronda.

“Tenang, pasti ini ada jalan dan semua bakal ada hikmahnya. Siapa tahu nanti kita jadi pemenang,” jawabku dengan nada sedikit bercanda.

Aamiin,” ucap kami bertiga serempak.

BACA JUGA: Berdamai dengan Diri Sendiri untuk Hadapi Berbagai Permasalahan Hidup

Setelah beberapa lama kami beristirahat dan temanku sudah sedikit sehat kembali, kami pun pulang menuju sekolah. Sesampainya di sekolah, kami mengolah data lapangan dan menganalisisnya sehingga menjadi laporan penelitian.

Namun, tidak semudah itu. Semua butuh proses, terlebih kami masih awam dalam dunia karya tulis ilmiah. Sehingga kami memerlukan waktu lain untuk menyelesaikan pengolahan data ini. Selain itu, kami juga merasa lelah setelah telusur sawah.

“Jar, bagaimana kalau kita lanjutkan besok saja ngolah datanya? Sekalian kita ajak teman kelompok lain untuk mengerjakan bersama-sama, sekalian upload naskah bareng,” tanya temanku.

“Oke kalau begitu. Tapi di rumah kita bagi tugas untuk ngolah datanya, jadi besok bisa lebih cepat selesai,” jawabku.

Pengalaman Menghadapi Kegagalan Saat Ikut Lomba

Keesokan harinya kami pun berkumpul kembali di sekolah. Guru pembimbing kami juga ikut hadir. Walaupun dia sibuk mengurus persiapan olimpiade, tetapi dia masih tetap membantu kami di tengah kesibukannya. Itulah salah satu karakter beliau yang kami sukai dan kagumi.

Setelah semua berkumpul, kami mulai melanjutkan pembuatan karya tulis. Meskipun kami berbeda kelompok, tetapi kami tetap saling bantu-membantu. Bagi kami, kompetisi bukan pemecah organisasi, tapi penguat kekompakan dalam satu organisasi. Setelah semua selesai, file karya yang kami buat dikumpulkan pada guru pembimbing untuk dikoreksi dan dikirim.

Kurang lebih 2 pekan kemudian, hasil seleksi karya tulis ilmiah keluar. Sekitar pukul 21.00 WIB aku membuka hasil tersebut. Setelah dibuka, ternyata hasilnya di luar ekspektasi.

Ketiga kelompok dari sekolah kami tidak ada satu pun yang lolos 7 besar. Hal ini menjadikan kami kecewa dan saling membahas, bahkan mengungkit-ungkit kesalahan yang sudah berlalu. Inilah salah satu pengalaman menghadapi kegagalan yang menyakitkan.

BACA JUGA: Ingat, Setiap Orang Punya Kelebihan dan Kekurangan Masing-Masing

Kekecewaan tersebut begitu terasa hingga kami hampir putus asa. Namun, kami semua tetap berusaha untuk mencoba kompetisi lain dan terus belajar. Hingga akhirnya setelah melewati banyak kompetisi dan kegagalan, aku berhasil mendapat predikat juara untuk pertama kalinya setelah kurang lebih 10 bulan dari kompetisi yang pertama.

Dari berbagai pengalaman yang telah kulewati, aku dapat menyimpulkan melalui perumpamaan, “Ibarat langkah kura-kura, ia mengajarkan kita tentang kepastian dan keteguhan bahwa yang terbaik bukanlah yang tercepat. Namun, yang terbaik adalah yang mampu menahan beban yang teramat dalam, tetapi tetap tekun dan sabar untuk belajar hingga menggapai apa yang diharapkan.” Demikian kisah nyata  tentang pengalaman menghadapi kegagalan ini. []

TEEN JOURNALIST
Nur Fajar Ivansyah
SMAN 1 Kejobong, Purbalingga

About Ibnu

Check Also

bahagia dan sedih

Saat Kamu Bahagia atau Sedih, Jangan Pernah Melupakan Allah

Smarteen.co.id — Sobat, perlu kita sadari bahwa kebahagiaan dan kesedihan itu tak ubahnya seperti siang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *